بِسْـــــــــــــــــمِ اﷲِارَّØ­ْÙ…َÙ†ِ ارَّØ­ِيم


Selamat Datang diBlogger yang sederhana ini Di Kembangkan oleh Kholik The Blues
Tampilkan postingan dengan label Tanaman tahunan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tanaman tahunan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 06 November 2010

Penyakit pada Pembibitan Kelapa Sawit


Penyakit pada Pembibitan Kelapa Sawit

Penyakit daun bibit di bibitan kelapa sawit yang sering juga disebut dengan nama antraknosa, adalah nama kolektif beberapa jenis penyakit di bibitan. Penyakit bibitan terutama terjadi pada pada bibit muda sampai berumur 3 bulan, atau pada bibit bibit yang baru dipindah dari pre nursery ke polybag normal.

Jika ditemukan bibit terserang berat ini menunjukkan bahwa persiapan dan perawatan bibit tidak mengikuti standar yang dianjurkan.

  A. PENYEBAB PENYAKIT DAN GEJALA 

Pada umumnya ada enam pathogen yang terlibat pada penyakit daun di bibitan, tetapi pada bibitan Lonsum biasanya hanya 2 jenis pathogen berbeda yang biasa menyerang daun yaitu: Botryodiplodia dan Culvularia. Sangat sulit untuk membedakan gejala dari beberapa macam jamur di lapangan. Mengidentifikasi pathogen secara pasti dibutuhkan pengamatan microscopic. Gejala dari setiap jamur penyebab penyakit di bibitan adalah sebagai berikut.

 

1. Botryodiplodia

Bercak daun dimulai dari ujung daun. Becak-becak kecil dan transparan dan mudah dimonitor dengan penembusan sinar matahari. (Gb 1)

Bahagian tengah dari bercak menjadi kelabu atau coklat gelap kertas dengan banyak titik hitam. mewakili tubuh buah (picnidia) dari jamur tersebut.

 

2. Culvularia

Mula-mula pathogen ini menyerang daun pupus yang belum membuka atau dua daun yang termuda yang sudah membuka.

Gejala pertama adanya becak bulat kecil, berwarna kuning tembus cahaya, yang dapat dilihat pada kedua sisi permukaan daun. Bercak kecil menjadi membesar tetapi tetap bulat dan warnanya sedikit demi sedikit berubah jadi coklat muda. Pusat becak-becak jadi mengendap. Bahagian becak menjadi coklat tua dikelilingi halo berwarna jingga kekuningan. Dengan infeksi berat daun paling tua akan mengering, menjadi keriting rapuh, namun becak tetap berwarna coklat tua. Penyakit ini dapat menghambat partumbuhan bibit tetapi tidak mematikan bibit. (Gbr 2)

 

3. Drechslera halodes

Mula-mula timbul pada pupus atau daun pertama yang baru saja membuka, terbentuk becak kecil hijau pucat, lalu menjadi hijau jernih yang dikelilingi halo lebar berwarna hijau kekuningan dan tidak berbatas tegas. (Gb 3) Ditengah bercak dapat dilihat satu titik berwarna coklat. Bercak-bercak ini dapat bersatu dengan bentuk tidak teratur, berwarna hitam kelabu.

 

4. Helminthosporium

Cendawan ini menunjukkan gejala-gejala yang berbeda. Kadang-kadang menghasilkan bercak kecil, berwarna coklat, tidak disertai dengan klorosis, dan bercak tidak membesar. Bagaimanapun dia dapat juga menyebabkan bercak memanjang.

 

B. DAUR PENYAKIT

Pathogen penyakit daun terdapat dimana-mana.

Infeksi dimulai dari ujung atau tepi daun Penyakit kemudian menyebar dari daun-daun terinfeksi ke daun-daun sehat.

Infeksi dapat terjadi dengan pencaran oleh air waktu hujan dan penyiraman bibit.

 

C. FAKTOR MEMPENGARUHI PENYAKIT

Infeksi akan lebih mudah terjadi jika ada pelukaan pada daun.

Daun terserang oleh tungau atau kutu biasanya diikuti oleh infeksi.

Penyakit meningkat karena kelembaban tinggi, terlalu banyak penyiraman, naungan yang terlalu berat dan jarak tanam bibit yang terlalu rapat.

Kandungan nitrogen tinggi dan kekurangan hara akan mempercepat serangan penyakit.

Pembibitan dengan perawatan optimal sangat jarang terserang oleh penyakit.

Beberapa faktor yang menyebabkan penyakit

Transplanting shock saat di pindahkan dari prapembibitan ke pembibitan utama atau dari pembibitan utama ke lapangan, dapat mengurangi ketahanan bibit, mungkin juga terjadi kerusakan akar.

Bibit terlalu lama di prapembibitan juga akan terkena penyakit.

Keadaan hara yang tidak seimbang. Kekurangan nitrogen dan magnesium akan mengurangi ketahanan bibit. Bibit yang ditanam ditanah gambut sangat rentan terhadap penyakit ini.

Kekurangan air dalam polybag akan menyebabkan bibit lebih rentan terhadap penyakit, khususnya pada waktu kelembaban udara tinggi.

Antara bibit-bibit terdapat perbedaan genetic Bibit yang lebih lambat pertumbuhannya akan lebih rentan terhadap penyakit ini.

 

C. PENGENDALIAN PENYAKIT

Patogen tidak akan menyerang bibitan jika persiapan pembibitan dilaksanakan secara baik.

Untuk menghindari pelukaan pada daun oleh serangga seperti tungau dan kutu, maka serangga ini harus dikontrol

Jika ada ledakan serangan penyakit di bibitan, harap ikuti rekomendasi di bawah ini:

Untuk mengurangi infeksi, semua sumber atau daun-daun yang sudah busuk digunting dan dimusnahkan atau dibakar.

Bibit yang terserang berat harus disingkirkan dari pembibitan dan dimusnahkan.

Jika bibit-bibit di pre nursery sudah terserang berat, maka bibit-bibit ini harus segera dipindahkan ke pembibitan utrama.

Jika penyakit masih terus berkembang, pemberian fungisida harus dilakukan seperti dibawah ini:

Kedua fungisida diatas harus dipakai secara bergantian dengan interval 1 minggu yang disemprotkan ke daun selama 4 minggu. Jika serangan pada daun muda atau daun yang belum membuka sudah menurun, maka interval penyemprotan dapat diturunkan menjadi 10 hari sekali.

Pemberian fungisida harus dihentikan jika daun tombak atau daun yang baru membuka sudah bebas dari pathogen-patogen.

 

Penyakit pada Pembibitan Kelapa Sawit

Penyakit pada Pembibitan Kelapa Sawit

Penyakit daun bibit di bibitan kelapa sawit yang sering juga disebut dengan nama antraknosa, adalah nama kolektif beberapa jenis penyakit di bibitan. Penyakit bibitan terutama terjadi pada pada bibit muda sampai berumur 3 bulan, atau pada bibit bibit yang baru dipindah dari pre nursery ke polybag normal.

Jika ditemukan bibit terserang berat ini menunjukkan bahwa persiapan dan perawatan bibit tidak mengikuti standar yang dianjurkan.

  A. PENYEBAB PENYAKIT DAN GEJALA 

Pada umumnya ada enam pathogen yang terlibat pada penyakit daun di bibitan, tetapi pada bibitan Lonsum biasanya hanya 2 jenis pathogen berbeda yang biasa menyerang daun yaitu: Botryodiplodia dan Culvularia. Sangat sulit untuk membedakan gejala dari beberapa macam jamur di lapangan. Mengidentifikasi pathogen secara pasti dibutuhkan pengamatan microscopic. Gejala dari setiap jamur penyebab penyakit di bibitan adalah sebagai berikut.

 

1. Botryodiplodia

Bercak daun dimulai dari ujung daun. Becak-becak kecil dan transparan dan mudah dimonitor dengan penembusan sinar matahari. (Gb 1)

Bahagian tengah dari bercak menjadi kelabu atau coklat gelap kertas dengan banyak titik hitam. mewakili tubuh buah (picnidia) dari jamur tersebut.

 

2. Culvularia

Mula-mula pathogen ini menyerang daun pupus yang belum membuka atau dua daun yang termuda yang sudah membuka.

Gejala pertama adanya becak bulat kecil, berwarna kuning tembus cahaya, yang dapat dilihat pada kedua sisi permukaan daun. Bercak kecil menjadi membesar tetapi tetap bulat dan warnanya sedikit demi sedikit berubah jadi coklat muda. Pusat becak-becak jadi mengendap. Bahagian becak menjadi coklat tua dikelilingi halo berwarna jingga kekuningan. Dengan infeksi berat daun paling tua akan mengering, menjadi keriting rapuh, namun becak tetap berwarna coklat tua. Penyakit ini dapat menghambat partumbuhan bibit tetapi tidak mematikan bibit. (Gbr 2)

 

3. Drechslera halodes

Mula-mula timbul pada pupus atau daun pertama yang baru saja membuka, terbentuk becak kecil hijau pucat, lalu menjadi hijau jernih yang dikelilingi halo lebar berwarna hijau kekuningan dan tidak berbatas tegas. (Gb 3) Ditengah bercak dapat dilihat satu titik berwarna coklat. Bercak-bercak ini dapat bersatu dengan bentuk tidak teratur, berwarna hitam kelabu.

 

4. Helminthosporium

Cendawan ini menunjukkan gejala-gejala yang berbeda. Kadang-kadang menghasilkan bercak kecil, berwarna coklat, tidak disertai dengan klorosis, dan bercak tidak membesar. Bagaimanapun dia dapat juga menyebabkan bercak memanjang.

 

B. DAUR PENYAKIT

Pathogen penyakit daun terdapat dimana-mana.

Infeksi dimulai dari ujung atau tepi daun Penyakit kemudian menyebar dari daun-daun terinfeksi ke daun-daun sehat.

Infeksi dapat terjadi dengan pencaran oleh air waktu hujan dan penyiraman bibit.

 

C. FAKTOR MEMPENGARUHI PENYAKIT

Infeksi akan lebih mudah terjadi jika ada pelukaan pada daun.

Daun terserang oleh tungau atau kutu biasanya diikuti oleh infeksi.

Penyakit meningkat karena kelembaban tinggi, terlalu banyak penyiraman, naungan yang terlalu berat dan jarak tanam bibit yang terlalu rapat.

Kandungan nitrogen tinggi dan kekurangan hara akan mempercepat serangan penyakit.

Pembibitan dengan perawatan optimal sangat jarang terserang oleh penyakit.

Beberapa faktor yang menyebabkan penyakit

Transplanting shock saat di pindahkan dari prapembibitan ke pembibitan utama atau dari pembibitan utama ke lapangan, dapat mengurangi ketahanan bibit, mungkin juga terjadi kerusakan akar.

Bibit terlalu lama di prapembibitan juga akan terkena penyakit.

Keadaan hara yang tidak seimbang. Kekurangan nitrogen dan magnesium akan mengurangi ketahanan bibit. Bibit yang ditanam ditanah gambut sangat rentan terhadap penyakit ini.

Kekurangan air dalam polybag akan menyebabkan bibit lebih rentan terhadap penyakit, khususnya pada waktu kelembaban udara tinggi.

Antara bibit-bibit terdapat perbedaan genetic Bibit yang lebih lambat pertumbuhannya akan lebih rentan terhadap penyakit ini.

 

C. PENGENDALIAN PENYAKIT

Patogen tidak akan menyerang bibitan jika persiapan pembibitan dilaksanakan secara baik.

Untuk menghindari pelukaan pada daun oleh serangga seperti tungau dan kutu, maka serangga ini harus dikontrol

Jika ada ledakan serangan penyakit di bibitan, harap ikuti rekomendasi di bawah ini:

Untuk mengurangi infeksi, semua sumber atau daun-daun yang sudah busuk digunting dan dimusnahkan atau dibakar.

Bibit yang terserang berat harus disingkirkan dari pembibitan dan dimusnahkan.

Jika bibit-bibit di pre nursery sudah terserang berat, maka bibit-bibit ini harus segera dipindahkan ke pembibitan utrama.

Jika penyakit masih terus berkembang, pemberian fungisida harus dilakukan seperti dibawah ini:

Kedua fungisida diatas harus dipakai secara bergantian dengan interval 1 minggu yang disemprotkan ke daun selama 4 minggu. Jika serangan pada daun muda atau daun yang belum membuka sudah menurun, maka interval penyemprotan dapat diturunkan menjadi 10 hari sekali.

Pemberian fungisida harus dihentikan jika daun tombak atau daun yang baru membuka sudah bebas dari pathogen-patogen.

 

Hama dalam Pembibitan Kelapa Sawi

Hama dalam Pembibitan Kelapa Sawit 

Dalam Usaha Pembibitan Kelapa Sawit sering dijumpai hama yang menyerang di tahap pembibitan, antara lain :

1. Adoretus compressus

Bagian Terserang

daun, Stadia yang merugikan : dewasa. Kumbang Adoretus berwarna coklat dengan bercakbercak putih. Panjang tubuh mencapai 1,5 cm dan mempunyai bulu-bulu halus. Telur diletakkan di dalam tanah. larva memakan akarakar tumbuhan liar di tanah lapisan atas. Pada siang hari kumbang bersembunyi, masuk beberapa cm ke dalam tanah. Serangan kebanyakan terjadi pada awal malam hari.

KERUSAKAN

Kumbang Adoretus dewasa menyerang daun, memakan sebagian kecil daging daun bagian tengah.

PENGENDALIAN

Serangga ini adalah penyerang di malam hari sehingga pengendalian yang efektif dapat dicapai jika pestisida diaplikasikan pada malam hari. Penyemprotan daun dengan deltamethrin (3-5 ml/10 l air), fipronil (1-2 ml/l air), cyhalothrin (4-5 ml/10 l air) atau carbosulfan (1-2 ml/l air).

2. Apogonia expeditionis

Bagian Terserang :

Daun Stadia yang merugikan : dewasa Kumbang Apogonia berukuran 1,2 cm, berwa rna coklat polos dan tak berbulu, warna bagian dada lebih gelap dibandingkan dengan warna sayap. Pada siang hari kumbang bersembunyi, masuk beberapa cm ke dalam tanah. Serangan kebanyakan terjadi pada awal malam hari.

KERUSAKAN

Kumbang mulai menyerang dari bagian pinggir dan membuat robekan besar pada pinggir helai daun.

PENGENDALIAN

Serangga ini adalah penyerang di malam hari sehingga pengendalian yang efektif dapat dicapai jika pestisida diaplikasikan pada malam hari. Penyemprotan daun dengan deltamethrin (3-5 ml/10 l air), fipronil (1-2 ml/l air), cyhalothrin (4-5 ml/10 l air) atau carbosulfan (1-2 ml/l air).

3. Hypomeces squamosus

Bagian Terserang : daun Stadia yang merugikan : kumbang

KERUSAKAN

Hama ini menyerang banyak tanaman lain. Kumbang mulai menyerang dari bagian pinggir dan membuat robekan besar pada pinggir helai daun. Kumbang dengan mudah dapat dilihat memakan daun pada pembibitan.

PENGENDALIAN

Penyemprotan daun dengan deltamethrin (3-5 ml/10 l air), fipronil (1-2 ml/l air), cyhalothrin (4-5 ml/10 l air) atau carbosulfan (1-2 ml/l air).

4. Spodoptera litura Ulat tentara

Bagian Terserang : daun Stadia yang merugikan : ulat Sayap belakang ngengat kebanyakan berwarna coklat tua dengan corak garis -garis halus putih kekuningan. Panjang ulat mencapai 40 mm, hijau tua bergaris -garis putih Telur diletakkan dalam kantung yang berisi beratusratus butir, yang ditutupi dengan bulu berwarna coklat.

KERUSAKAN

Hama ini menyerang banyak tanaman lain. Kadangkadang meluas dan sering terlihat dalam pembibitan. Ulat merusak kulit ari daun dan jika dilihat lebih dekat gerombolan dari ulat biasanya dapat dilihat.

PENGENDALIAN

Pengutipan (hand-picking). Bacillus thuringiensis (BT) (seperti Dipel, Thuricide)10 gram/20 l air + bahan pelekat.

5. Tetranychus piercei Tungau Merah

Bagian Terserang : daun Stadia yang merugikan : ulat dan dewasa Serangga dewasa berwarna merah dan berukuran 0,3 mm sampai 0,4 mm. Memiliki 4 pasang kaki, sedangkan larva hanya memiliki 3 pasang.

KERUSAKAN

Serangga ini menghisap makanan dari pohon, biasanya daerah yang diserang kehilangan warna dan terlihat berbercak-bercak. Pada penyerangan yang parah seluruh pohon akan kehilangan warna dan pohon pada pembibitan depat terganggu per tumbuhanya. Pada umumnya serangan dimulai pada musim kemarau yang parah. Populasi sangat rendah ketika musim penghujan.

PENGENDALIAN

Penyemprotan dengan sulfur telah memberikan basil baik, dengan dosis 20 g/l pada pembibitan + 0.8ml sticker. Dapat juga digunakan amitraz (2 ml/l air) atau propargite (2 ml/l air).

6. Aphids/kepik Mealy bugs/kutu bulu putih

Bagian Terserang : daun Stadia yang merugikan : ulat dan dewasa

KERUSAKAN

Aphids/kepik dan mealy bugs/kutu bulu putih biasanya tidak menjadi masalah, namun demikian dapat membuat daun berubah bentuk (distorsi) jika muncul dalam jumlah banyak. Aphids/kepik dapat ditemukan di bagian tengah (axis) daun dan dilihat iebih dekat akan nampak. Keberadaan semut sering merupakan indikasi adanya aphids. Mealy bugs/kutu bulu putih berukuran lebih besar dari aphid/kepik dan mempunyai lapisan seperti bulu putih/lilin. Gejala serangga seperti pada aphid.

PENGENDALIAN

Dimethoate 40% (20 ml/20 liter air + surfaktan. Semprotkan sampai basah terutama pada permukaan bawah daun.

 

7. Valanga nigricornis

Bagian Terserang : daun Stadia yang merugikan : dewasa dan nimfa Jenis betina lebih besar daripada jenis jantan 55-85 mm. Ada banyak keluarga sejenis hama ini yang beraneka warnanya, dari hijau kekuningan sampai abu-abu kecoklatan.

KERUSAKAN

Serangan hama ini sangat khas, yaitu hama memotong putus daun dalam potongan yang besar, kadang-kadang ditemukan potongan pada pertengahan anak daun. Belalang dengan mudah dapat dilihat memakan daun pada pembibitan.

PENGENDALIAN

Penyemprotan dengan tepung Metarhizium yang berasal dari belalang terinfeksi sebanyak 2 g per liter air memberikan hasil yang baik Insektisida kimia seperti fipronil (1-2 ml/l air) dan carbosulfan (1-2 ml/l air) merupakan insektisida yang efektif.

 

 

 

 

 

 

Pengendalian hama dan penyakit pada kelapa sawit


Pengendalian hama dan penyakit pada kelapa sawit

 A. Penyakit

 1. Penyakit Akar (Blast disease)

Gejala serangan :

- Tanaman tumbuh abnormal dan lemah

- Daun tanaman berubah menjadi berwarna kuning

Penyebab :

Jamur Rhizoctonia lamellifera dan Phytium sp.

Cara pengendalian :

- Melakukan kegiatan persemaian dengan baik

- Mengatur pengairan agar tidak terjadi kekeringan di pertanaman

 2. Penyakit Busuk Pangkal Batang (Basal stem rot/Ganoderma)

Gejala serangan:

- Daun berwarna hijau pucat

- Jamur yang terbentuk sedikit

- Daun tua menjadi layu dan patah

- Dari tempat yang terinfeksi keluar getah

Penyebab :

Jamur Ganoderma applanatum, Ganoderma lucidum, dan Ganoderma pseudofferum.

Cara pengendalian dan pencegahan :

- Membongkar tanaman yang terserang dan selanjutnya dibakar

- Melakukan pembumbunan tanaman

3. Penyakit Busuk Batang Atas (Upper stem rot)

Gejala serangan:

- Warna daun yang terbawah berubah dan selanjutnya mati

- Batang yang berada sekitar 2 m di atas tanah membusuk

- Bagian yang busuk berwarna cokelat keabuan

Penyebab :

Jamur Fomex noxius.

Cara pengendalian :

- Melakukan pembongkaran tanaman yang terserang dan membuang bagian tanaman yang terserang

- Bekas luka selanjutnya ditutupi dengan obat penutup luka

4. Penyakit Busuk Kering Pangkal Batang (Dry basal rot)

Gejala serangan :

Tandan buah membusuk dan pelepah daun bagian bawah patah.

Penyebab :

Jamur Ceratocytis paradoxa.

Cara pengendalian :

Membongkar tanaman yang terserang hebat dan selanjutnya dibakar.

5. Penyakit Busuk Kuncup (Spear rot)

Gejala serangan:

Jaringan pada kuncup (spear) membusuk dan berwarna kecokelatan.

Penyebab :

Belum diketahui dengan pasti.

Cara pengendalian : Memotong bagian kuncup yang terserang.

6.Penyakit Busuk Titk Tumbuh (Bud rot)

Gejala serangan :

- Kuncup tanaman membusuk sehingga mudah dicabut

- Aroma kuncup yang terserang berbau busuk

Penyebab :

Bakteri Erwinia.

Cara pengendalian :

Belum ada cara efektif untuk memberantas penyakit ini.

7. Penyakit Garis Kuning (Patch yellow)

Gejala serangan:

Terdapat bercak daun berbentuk lonjong berwarna kuning dan di bagian tengahnya berwarna cokelat.

Penyebab :

Jamur Fusarium oxysporum.

Cara pengendalian :

Melakukan inokulasi penyakit pada bibit dan tanaman muda. Hal ini bertujuan agar serangan penyakit di persemaian dan pada tanaman muda dapat berkurang.

8. Penyakit Antraknosa (Anthracnose)

Gejala serangan :

- Terdapat bercak-bercak cokelat tua di ujung dan tepi daun

- Bercak-bercak dikelilingi warna kuning

- Bercak ini merupakan batas antara bagian daun yang sehat dan yang terserang

Penyebab :

Jamur Melanconium sp., Glomerella cingulata, dan Botryodiplodia palmarum.

Cara pengendalian :

- Melakukan pengaturan jarak tanam, penyiraman secara teratur dan pemupukan berimbang

- Tanah yang menggumpal di akar harus disertakan pada waktu pemindahan bibit dari persemaian ke pembibitan utama.

Pengaplikasian Captan 0,2% atau Cuman 0,1%.

9. Penyakit Tajuk (Crown disease)

Gejala serangan :

Helai daun bagian tengah pelepah berukuran kecil-kecil dan sobek.

Penyebab:

Sifat genetik yang diturunkan dari tanaman induk.

Cara pengendalian :

Melakukan seleksi terhadap tanaman induk yang bersifat karier penyakit ini.

10. Penyakit Busuk Tandan (Bunch rot)

Gejala serangan:

Terdapat miselium berwarna putih di antara buah masak atau pangkal pelepah daun.

Penyebab :

Jamur Marasmius palmivorus.

Cara pengendalian :

Melakukan kastrasi, penyerbukan buatan dan menjaga sanitasi kebun, terutama pada musim hujan.

Pengaplikasian difolatan 0,2 %

 

B. Hama

1. Nematoda (Rhadinaphelenchus cocophilus)

Gejala serangan :

- Daun terserang menggulung dan tumbuh tegak

- Warna daun berubah menjadi kuning dan selanjutnya mengering.

Cara pengendalian:

- Pohon yang terserang dibongkar dan selanjutnya dibakar

- Tanaman dimatikan dengan racun natrium arsenit

2. Tungau (Oligonychus sp.)

Gejala serangan :

Daun yang terserang berubah warnanya menjadi berwarna perunggu mengkilat (bronz).

Cara pengendalian :

Pengaplikasian akasirida yang mengandung bahan aktif tetradifon 75,2 g/l.

3. Pimelephila ghesquierei

Gejala serangan :

Serangan menyebabkan lubang pada daun muda sehingga daun banyak yang patah.

Cara pengendalian :

- Serangan ringan dapat diatasi dengan memotong bagian yang terserang

- Pada serangan berat dilakukan penyemprotan parathion 0,02%.

4. Ulat api (Setora nitens, Darna trima dan Ploneta diducta)

Gejala serangan :

Daun yang terserang berlubang-lubang. Selanjutnya daun hanya tersisa tulang daunnya saja.

Cara pengendalian :

Pengaplikasian insektisida berbahan aktif triazofos 242 g/l, karbaril 85 % dan klorpirifos 200 g/l.

5. Ulat kantong (Metisa plana, Mahasena corbetti dan Crematosphisa pendula)

Gejala serangan:

- Daun yang terserang menjadi rusak, berlubang dan tidak utuh lagi

- Selanjutnya daun menjadi kering dan berwarna abu-abu.

Cara pengendalian :

Pengaplikasian timah arsetat dengan dosis 2,5 kg/ha atau dengan insektisida berbahan aktif triklorfon 707 g/l, dengan dosis 1,5-2 kg/ha.

6. Belalang Valanga nigricornis dan Gastrimargus marmoratus

Gejala serangan:

Terdapat bekas gigitan pada bagian tepi daun yang terserang.

Cara pengendalian :

Pengendalian dapat dilakukan dengan mendatangkan burung pemangsanya.

7. Kumbang Oryctes rhinoceros

Gejala serangan :

Daun muda yang belum membuka dan pada pangkal daun berlubang-lubang.

Cara pengendalian :

Menggunakan parasit kumbang, seperti jamur Metharrizium anisopliae dan virus Baculovirus oryctes.

Melepaskan predator kumbang, seperti tokek, ular dan burung.

8. Ngengat Tirathaba mundella (penggerek tandan buah)

Gejala serangan:

Terdapat lubang-lubang pada buah muda dan buah tua.

Cara pengendalian :

Pengaplikasian insektisida yang mengandung bahan aktif triklorfon 707 g/l atau andosulfan 350 g/l.

9. Tikus (Rattus tiomanicus dan Rattus sp.)

Gejala serangan:

- Pertumbuhan bibit dan tanaman muda tidak normal

- Buah yang terserang menunjukkan bekas gigitan.

Cara pengendalian :

Melakukan pengemposan pada sarangnya atau mendatangkan predator tikus, seperti kucing, ular dan burung hantu.

 

 

 

 

 

 

 

 

Rabu, 03 November 2010

Benarkah Perkebunan Sawit Merusak Alam?


Perkembangan industri sawit yang pesat mengikuti kebutuhan dunia akan CPO menyebabkan semakin luasnya lahan yang dibutuhkan. Akibat hal ini banyak aktivis lingkungan yang menghawatirkan keseimbangan alam akan terganggu. 

Sebenarnya kekhawatiran mereka cukup beralasan, karena semakin banyak kasus manusia-manusia yang serakah dengan alam dan pembakaran hutan yang miris, hingga asapnya pun menganggu lingkungan udara negara tetangga.

Namun, apakah itu pasti disebabkan oleh perkebunan sawit, kita harus bijak dan teliti dengan benar. Banyak ketidakseimbangan alam itu disebabkan oleh penebangan hutan secara liar, yang dampaknya dirasakan sampai sekarang, atau kemarau panjang yang mengakibatkan kebakaran hutan.

Dampak penebangan liar tersebut justru bisa diatasi dengan memanfaatkan lahannya sebagai perkebunan kelapa sawit yang bernilai ekonomis tinggi. Dengan menjadikan lahan sebagai kebun sawit, akan membantu pemulihan lingkungan. Tentu saja jika pada pelaksanaannya sesuai aturan dan ketentuan yang berlaku. Misalnya, tidak menanam satu jenis dalam jumlah besar dengan luas tertentu, karena bisa mengubah flora dan fauna setempat. Sawit pun dapat mengurangi pelepasan CO2 (tersangka utama penyebab pemanasan bumi) dan dapat menyumbang O2 dalam jumlah besar.

Memang awalnya lahan yang dibuka untuk perkebunan sawit tampak gersang, karena lahan tersebut dibersihkan dulu. Tapi dalam waktu delapan bulan setelah lahan dibuka, seluruhnya akan tertutupi oleh tanaman legume (kacang-kacangan). Dengan demikian perkebunan kelapa sawit bisa membantu mengurangi kecepatan pemanasan global, asal dengan cara yang benar dan bertanggung jawab.  

Sumber: Perkebunan Kelapa Sawit Vs Disharmoni Alam (John Rubby) di kompasiana.com

 
Nur kholik by SEBAMBAN 4 C |>